JUMLAH TROMBOSIT PEROKOK PADA LAKI-LAKI USIA 15-50
PENDAHULUAN
1.1 Latar belakang
Rokok atau tembakau membawa beberapa efek buruk bagi tubuh, terutama yang disebabkan kandungan nikotin sehingga menyebabkan rokok menjadi sangat adiktif. Kandungan nikotin tersebut yang membuat perokok sulit berhenti merokok dan menjadikannya proses yang panjang dan menyulitkan.
Dikenal sebagai penyebab utama kematian yang dapat dihindari, merokok membuat para perokok memiliki risiko terjangkit penyakit yang disebabkan oleh tembakau seperti kanker paru-paru dan penyakit jantung. Sayangnya, meskipun banyak perokok yang ingin berhenti merokok, mereka mengalami kesulitan dalam melakukannya. Faktanya, berdasarkan beberapa penelitian yang pernah dilakukan, hampir 70% perokok ingin berhenti merokok dan hampir 50% perokok sudah pernah mencoba berhenti merokok tetapi tidak berhasil melakukannya. Kesulitan para perokok untuk berhenti merokok disebabkan karena merokok sangat membuat kecanduan. Karenanya, para perokok perlu mengikuti rencana pengobatan tertentu untuk berhenti merokok. Semakin lama dan semakin sering seseorang merokok, maka proses berhenti merokok akan semakin sulit.
Tanda Utama
Alasan lain kenapa perokok yang ingin berhenti merokok perlu menggunakan rencana yang disusun secara spesifik untuk berhenti merokok adalah, karena tanpa proses yang jelas, seorang perokok akan mengalami gejala penarikan (sakau). Gejala penarikan terjadi karena tingkat kecanduan yang dialami sang perokok, karena tubuh perlu beradaptasi akan hilangnya zat yang menyebabkan kecanduan, di mana dalam kasus ini adalah nikotin. Tanda-tanda seseorang sedang mengalami gejala penarikan adalah:
Keinginan untuk merokok
Gelisah
Rasa jengkel
Depresi
Kenaikan berat badan yang tiba-tiba
Sakit kepala
Diare
Konstipasi
Rasa malas dan mengantuk
Insomnia
Rasa lapar yang bertambah
Keinginan untuk makan makanan manis
1.2 Gambaran umum tentang trombosit pada perokok
perokok dapat merusak kesehatan, banyak penyakit ditimbulkan akibat merokok, baik secara langsung maupun tidak langsung. Kebiasaan merokok bukan saja merugikan si perokok tetapi, juga bagi orang disekitarnya (Ervina, 2007). Data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2013 menyebutkan, jumlah perokok di Indonesia memang mengalami peningkatan menjadi 36,3% atau naik 2,1% dibandingkan tahun 2007. Prevalensi perokok berdasarkan jenis kelamin juga meningkat cukup signifikan. Di tahun 2007, prevalensi perokok laki-laki sebesar 65,6% dan perempuan 5,2%. Sementara di 2013, prevalensi perokok laki-laki meningkat menjadi 68,8% dan perempuan 6,9% (Herman, 2014).
Paparan asap rokok baik aktif maupun pasif dapat mempengaruhi platelet. Seseorang yang sudah lama terpapar asap rokok mempunyai potensi terjadi peningkatan agregasi platelet, dan ekskresi metabolit thromboxan (Butkiewicz, 2006). Bahan kimia utama yang terkandung di dalam asap rokok antara lain; nikotin, CO (karbon monoksida), dan tar. Menurut Moccia (2004) nikotin merupakan salah satu komponen utama pada rokok yang dapat menyebabkan perubahan morfologi dan fungsi endotel pembuluh darah, yang ditandai dengan kerusakan pada endotel dan agregasi trombosit, merangsang sintesa DNA, serta nitric oxide ( Rosyid, 2010).nitrit oxide (NO) yang akan memicu sintesis tromboksan sebagai agen prothrombic dan akan menghambat produksi prostasiklin (PGI2) sebagai agen prothrombic. Konsentrasi nikotin dalam plasma yang meningkat akan memicu simpatis kemudian limpa akan melepaskan trombosit yang distimulus oleh alfa adenoceptor sehingga jumlah trombosit dalam darah meningkat. Perubahan jumlah trombosit dan aktivasi trombosit ini akan meningkatkan cardiac ischaemia (Rachim, Marisa 2012).Kelainan trombosit dari segi kualitas maupun kuantitas akan menimbulkan gangguan baik perdarahan maupun trombosis, oleh karena itu selain jumlah, penilaian fungsi trombosit juga penting. Pemeriksaan apusan harus selalu dilakukan apabila hitung trombosit rendah karena penggumpalan trombosit dapat menyebabkan hitung trombosit rendah palsu. Trombosis disertai penurunan fungsi agregasi biasanya mudah menggumpal. Pembentukan sumbat hemostatik akan berlangsung dengan normal jika jumlah trombosit memadai dan kemampuan trombosit untuk beradhesi dan beragregasi juga bagus (Ratnaningsih, 2003).
penelitian terdahulu pada pecandu rokok
Data perokok rata-rata masyarakat Indonesia (usia 15 tahun ke atas) adalah sekitar 30 persen, artinya dengan bertambahnya umur maka persentase perokoknya terus meningkat.
“Artinya, bila kita dapat menekan kebiasaan merokok pada kaum muda atau pelajar, maka kita dapat juga mengharapkan angka perokok pada dewasa dapat dikendalikan lebih baik,” tulis Prof dr Tjandra Yoga Adiatama, SpP(K), MARS, DTM&H, DTCE, Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Kementerian Kesehatan, dalam keterangan pers yang diterima CNN Indonesia.
“Dalam hal ini, program penanggulangan merokok di lingkungan sekolah punya peran cukup besar. Jangan ada guru dan murid yang merokok di lingkungan sekolah, jangan ada penjual rokok di sekitar sekolah dan juga ada pengetahuan tentang rokok yang diajarkan pada siswa sekolah,” ujarnya menjelaskan.
GYTS 2014 juga menunjukkan bahwa sebagian besar perokok pelajar tersebut masih merokok kurang dari lima batang sehari. Tapi, ternyata 11,7 persen perokok pelajar laki-laki dan 9,5 persen pelajar perempuan sudah mulai merokok sejak sebelum usia 7 tahun.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa hampir separuh (47,2 persen) pelajar perokok Indonesia ternyata sudah dalam status adiksi, atau ketagihan. Hal ini ditunjukkan dengan mereka biasanya sudah ingin merokok pada saat pertama bangun tidur. “Angka ini tentu cukup memprihatinkan, karena mereka masih amat muda tapi sudah adiksi merokok,” kata Tjandra.
Di sisi lain, hampir semua perokok pelajar yang diteliti GYTS 2014 (88,2 persen) sebenarnya ingin berhenti merokok, walaupun hanya seperempatnya (24 persen) yang pernah menerima bantuan program atau profesional untuk berhenti merokok.
Hampir semua pelajar pada penelitian ini setuju pelarangan merokok di dalam ruangan di tempat umum (89,4 persen), dan 80,9 persen juga setuju pelarangan merokok di luar ruang.
“Artinya, kesadaran untuk udara bersih sehat sebenarnya sudah cukup luas. Yang perlu ditingkatkan adalah peraturan Kawasan Bebas Asap Rokok, yang kini sudah ada aturan di lebih dari 100 kabupaten/kota. Hanya saja memang implementasinya perlu terus ditegakkan dengan ketat,” kata Tjandra.
1.3 Rumusan Masalah
Bagaimana cara membuat orang yang sudah lama merokok, berhenti?
1.4 Tujuan
Untuk mengetahui cara membuat orang yang sudah lama merokok, berhenti.
2.1 Kajian teori tentang pengonsumsi rook
k yang meningkat dari waktu ke waktu
Perilaku merokok adalah sesuatu yang dilakukan seseorang berupa
membakar dan menghisapnya serta dapat menimbulkan asap yang dapat terisap
oleh orang-orang disekitarnya (Leavy dalam Nasution, 2007). Sedangkan
menurut Aritonang (dalam Sulistyo, 2009) merokok adalah perilaku yang
komplek, karena merupakan hasil interaksi dari aspek kognitif, kondisi
psikologis, dan keadaan fisiologis.
Perilaku merokok adalah sesuatu yang dilakukan seseorang berupa
membakar dan menghisapnya serta dapat menimbulkan asap yang dapat terisap
oleh orang-orang disekitarnya (Leavy dalam Nasution, 2007). Sedangkan
menurut Aritonang (dalam Sulistyo, 2009) merokok adalah perilaku yang
komplek, karena merupakan hasil interaksi dari aspek kognitif, kondisi
psikologis, dan keadaan fisiologis.
2.2 Kajian teori tentang perokok setiap Hari dan beberapa bulan
Perokok adalah seseorang yang suka merokok, disebut perokok aktifbila
orang tersebut yang merokok secara aktif, dan disebut perokok pasif bila
orang tersebut hanya menerima asap rokok saja, bukan melakukan aktivitas
merokok sendiri(KBBI, 2012).
Definisi lain dari perokok adalah mereka yang merokok setiap hari untuk
jangka waktu minimal enam bulan selama hidupnya masih merokok saat
surveidilakukan (Octafrida, 2011).
2.3 Bahan dan metode
Metode yang dipilih untuk berhenti merokok adalah metode pengobatan, perubahan perilaku, dan dorongan positif. Semua peristiwa di atas menyebabkan seorang perokok harus menghentikan kebiasaannya sebagai perokok. Hikmah di balik itu semua adalah perokok memiliki kemauan yang kuat untuk berhenti dari merokok.
2.4 Rancangan dan penelitian
Penelitian akan dilakukan pada tahun 2017 di Batu Mulia, mengapa saya memilih melakukan penelitian di tempat tersebut, karena di kalangan masyarakat banyak anak sekolah yang menghisap rokok , Pihak sekolah dan orangtua tampaknya sulit mengontrol anak didiknya yang merokok di lingkungan sekolah dan luar sekolah. Berdasarkan realita di atas, penelitian ini mencoba melakukan kerjasama dengan para mantan
perokok (khususnya para orangtua) untuk mengajak anak didiknya agar menjauhi rokok sejak usia dini. Melalui pertemuan dengan para informan diharapkan terbentuk suatu rasa kepedulian terhadap generasi muda khususnya mengenai lingkungan sehat bebas rokok.
2.5 Sampel
Rokok dengan merk yang berbeda-beda
2.6 hasil penelitian
Data yang terkumpul berupa data deskriptif informan mulai mengenal rokok sampai kecanduan rokok. Selain itu, diperoleh pula data mengenai proses berhenti merokok hingga peristiwa yang menyebabkan dia berhenti dari merokok.
2.7 Pembahasan
Setiap orang tentu memiliki alasan yang berbeda untuk berhenti merokok. Alasan tersebut sifatnya tidak tunggal, tetapi bisa ganda. Namun, ada alasan yang sifatnya utama serta ada alasan pendukung. Alasan gangguan kesehatan hampir merata ditemukan pada perokok yang ingin menghentikan kebiasaan merokoknya. Munculnya gangguan kesehatan seperti hipertensi, demam tinggi, batuk, dada nyeri dan sakit kepala. Akibat gangguan kesehatan itu menyebabkan perokok merasakan lidah yang pahit dan rasa yang tidak enak setiap kali merokok.
3.1 PENUTUP
3.2 Kesimpulan
einginan untuk hidup sehat, panjang umur, terbebas dari gangguan kesehatan maupun penyakit mendorong perokok untuk terlepas dari penderitaannya. Alasan berhenti merokok bisa dipengaruhi faktor kesehatan, keluarga, dan organisasi keagamaan. Faktor kesehatan yaitu munculnya gangguan-gangguan seperti hipertensi, nyeri dada, demam tinggi maupun batuk. Sementara itu penolakan anggota keluarga terhadap perokok mengakibatkan ada usaha keras untuk berhenti merokok. Faktor keluarga sebagai alasan berhenti merokok termasuk keprihatinan melihat anak dan istri yang mengikuti jejaknya sebagai perokok serta adanya balita di rumah yang akan terkena pengaruh negatif asap rokok. Sementara itu, faktor organisasi keagamaan menyangkut organisasi keagaamaan yang dianutnya menjadi faktor penting dalam hidupnya yang telah memberi pencerahan padanya agar menjauhi rokok, karena pengaruh negatif dari rokok lebih besar daripada positifnya.
Cara yang ditempuh untuk berhenti merokok antara lain dengan metode pengobatan yaitu mencari obat yang bisa menyembuhkan kecanduan terhadap rokok. Metode lain yaitu perubahan perilaku yaitu seseorang berubah tanpa bantuan obat melainkan hanya berhenti begitu saja melalui perubahan perilaku dengan menjauhi dan menghindari rokok. Metode ketiga yaitu dorongan positif artinya memasukkan pikiran dan perilaku positif yang diinginkan. Ketiga bentuk terapi yang dipilih untuk berhenti merokok dalam pelayanan kesehatan menurut Kleinman termasuk dalam sektor populer, karena informasi pelayanan kesehatan yang dipilih hanya didasarkan atas nasihat teman, keluarga, atau orang awam dan bukan dari kelompok medis.
Banyak orang mengatakan bahwa kenikmatan merokok sangat menyenangkan. Banyak pula orang mengatakan sulit sekali untuk meninggalkan kebiasaan atau lebih tepatnya kecanduan rokok. Mengapa dikatakan kecanduan, karena kebiasaan ini tidak bisa ditinggalkan begitu saja dan harus dipenuhi jika diinginkan serta rasa nikmat yang diburu. Padahal semua masyarakat dan khususnya perokok itu sendiri tahu benar bahwa merokok itu berbahaya bagi kesehatan khususnya paru-paru dan jantung, namun mereka masih tetap merokok. Inilah yang mempertegas bahwa merokok masuk dalam kategori kecanduan zat tertentu (nikotin) untuk menimbulkan rasa nikmat yang dalam bagi pecandunya. Hanya dengan tekad yang serius untuk menolak semua ajakan dan keinginan untuk merokok adalah sangat penting, karena dari
titik inilah selalu dapat mawas diri (kontrol diri) dalam setiap tindakan khususnya kecanduan rokok. Karena jika berkompromi dengan rokok, maka sebenarnya manusia yang tidak dapat memegang teguh prinsip hidup pribadinya. Jadi, tetaplah yakin bahwa kecanduan rokok mampu dihentikan dan tetap ingatlah selalu pada prinsip hidup yang benar. Salah satunya adalah tidak merokok.
3.3 Daftar Pustaka
http://www.ilmudasar.com/2016/10/Pengertian-Struktur-Bentuk-Fungsi-Proses-Pembentukan-Trombosit-adalah.html
http://digilib.unila.ac.id/7015/15/BAB%20II.pdf
http://etd.repository.ugm.ac.id/downloadfile/72110/potongan/S1-2014-300901-chapter1.pdf
http://jtptunimus-gdl-nurularyan-7979-2-.pdf
1.1 Latar belakang
Rokok atau tembakau membawa beberapa efek buruk bagi tubuh, terutama yang disebabkan kandungan nikotin sehingga menyebabkan rokok menjadi sangat adiktif. Kandungan nikotin tersebut yang membuat perokok sulit berhenti merokok dan menjadikannya proses yang panjang dan menyulitkan.
Dikenal sebagai penyebab utama kematian yang dapat dihindari, merokok membuat para perokok memiliki risiko terjangkit penyakit yang disebabkan oleh tembakau seperti kanker paru-paru dan penyakit jantung. Sayangnya, meskipun banyak perokok yang ingin berhenti merokok, mereka mengalami kesulitan dalam melakukannya. Faktanya, berdasarkan beberapa penelitian yang pernah dilakukan, hampir 70% perokok ingin berhenti merokok dan hampir 50% perokok sudah pernah mencoba berhenti merokok tetapi tidak berhasil melakukannya. Kesulitan para perokok untuk berhenti merokok disebabkan karena merokok sangat membuat kecanduan. Karenanya, para perokok perlu mengikuti rencana pengobatan tertentu untuk berhenti merokok. Semakin lama dan semakin sering seseorang merokok, maka proses berhenti merokok akan semakin sulit.
Tanda Utama
Alasan lain kenapa perokok yang ingin berhenti merokok perlu menggunakan rencana yang disusun secara spesifik untuk berhenti merokok adalah, karena tanpa proses yang jelas, seorang perokok akan mengalami gejala penarikan (sakau). Gejala penarikan terjadi karena tingkat kecanduan yang dialami sang perokok, karena tubuh perlu beradaptasi akan hilangnya zat yang menyebabkan kecanduan, di mana dalam kasus ini adalah nikotin. Tanda-tanda seseorang sedang mengalami gejala penarikan adalah:
Keinginan untuk merokok
Gelisah
Rasa jengkel
Depresi
Kenaikan berat badan yang tiba-tiba
Sakit kepala
Diare
Konstipasi
Rasa malas dan mengantuk
Insomnia
Rasa lapar yang bertambah
Keinginan untuk makan makanan manis
1.2 Gambaran umum tentang trombosit pada perokok
perokok dapat merusak kesehatan, banyak penyakit ditimbulkan akibat merokok, baik secara langsung maupun tidak langsung. Kebiasaan merokok bukan saja merugikan si perokok tetapi, juga bagi orang disekitarnya (Ervina, 2007). Data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2013 menyebutkan, jumlah perokok di Indonesia memang mengalami peningkatan menjadi 36,3% atau naik 2,1% dibandingkan tahun 2007. Prevalensi perokok berdasarkan jenis kelamin juga meningkat cukup signifikan. Di tahun 2007, prevalensi perokok laki-laki sebesar 65,6% dan perempuan 5,2%. Sementara di 2013, prevalensi perokok laki-laki meningkat menjadi 68,8% dan perempuan 6,9% (Herman, 2014).
Paparan asap rokok baik aktif maupun pasif dapat mempengaruhi platelet. Seseorang yang sudah lama terpapar asap rokok mempunyai potensi terjadi peningkatan agregasi platelet, dan ekskresi metabolit thromboxan (Butkiewicz, 2006). Bahan kimia utama yang terkandung di dalam asap rokok antara lain; nikotin, CO (karbon monoksida), dan tar. Menurut Moccia (2004) nikotin merupakan salah satu komponen utama pada rokok yang dapat menyebabkan perubahan morfologi dan fungsi endotel pembuluh darah, yang ditandai dengan kerusakan pada endotel dan agregasi trombosit, merangsang sintesa DNA, serta nitric oxide ( Rosyid, 2010).nitrit oxide (NO) yang akan memicu sintesis tromboksan sebagai agen prothrombic dan akan menghambat produksi prostasiklin (PGI2) sebagai agen prothrombic. Konsentrasi nikotin dalam plasma yang meningkat akan memicu simpatis kemudian limpa akan melepaskan trombosit yang distimulus oleh alfa adenoceptor sehingga jumlah trombosit dalam darah meningkat. Perubahan jumlah trombosit dan aktivasi trombosit ini akan meningkatkan cardiac ischaemia (Rachim, Marisa 2012).Kelainan trombosit dari segi kualitas maupun kuantitas akan menimbulkan gangguan baik perdarahan maupun trombosis, oleh karena itu selain jumlah, penilaian fungsi trombosit juga penting. Pemeriksaan apusan harus selalu dilakukan apabila hitung trombosit rendah karena penggumpalan trombosit dapat menyebabkan hitung trombosit rendah palsu. Trombosis disertai penurunan fungsi agregasi biasanya mudah menggumpal. Pembentukan sumbat hemostatik akan berlangsung dengan normal jika jumlah trombosit memadai dan kemampuan trombosit untuk beradhesi dan beragregasi juga bagus (Ratnaningsih, 2003).
penelitian terdahulu pada pecandu rokok
Data perokok rata-rata masyarakat Indonesia (usia 15 tahun ke atas) adalah sekitar 30 persen, artinya dengan bertambahnya umur maka persentase perokoknya terus meningkat.
“Artinya, bila kita dapat menekan kebiasaan merokok pada kaum muda atau pelajar, maka kita dapat juga mengharapkan angka perokok pada dewasa dapat dikendalikan lebih baik,” tulis Prof dr Tjandra Yoga Adiatama, SpP(K), MARS, DTM&H, DTCE, Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Kementerian Kesehatan, dalam keterangan pers yang diterima CNN Indonesia.
“Dalam hal ini, program penanggulangan merokok di lingkungan sekolah punya peran cukup besar. Jangan ada guru dan murid yang merokok di lingkungan sekolah, jangan ada penjual rokok di sekitar sekolah dan juga ada pengetahuan tentang rokok yang diajarkan pada siswa sekolah,” ujarnya menjelaskan.
GYTS 2014 juga menunjukkan bahwa sebagian besar perokok pelajar tersebut masih merokok kurang dari lima batang sehari. Tapi, ternyata 11,7 persen perokok pelajar laki-laki dan 9,5 persen pelajar perempuan sudah mulai merokok sejak sebelum usia 7 tahun.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa hampir separuh (47,2 persen) pelajar perokok Indonesia ternyata sudah dalam status adiksi, atau ketagihan. Hal ini ditunjukkan dengan mereka biasanya sudah ingin merokok pada saat pertama bangun tidur. “Angka ini tentu cukup memprihatinkan, karena mereka masih amat muda tapi sudah adiksi merokok,” kata Tjandra.
Di sisi lain, hampir semua perokok pelajar yang diteliti GYTS 2014 (88,2 persen) sebenarnya ingin berhenti merokok, walaupun hanya seperempatnya (24 persen) yang pernah menerima bantuan program atau profesional untuk berhenti merokok.
Hampir semua pelajar pada penelitian ini setuju pelarangan merokok di dalam ruangan di tempat umum (89,4 persen), dan 80,9 persen juga setuju pelarangan merokok di luar ruang.
“Artinya, kesadaran untuk udara bersih sehat sebenarnya sudah cukup luas. Yang perlu ditingkatkan adalah peraturan Kawasan Bebas Asap Rokok, yang kini sudah ada aturan di lebih dari 100 kabupaten/kota. Hanya saja memang implementasinya perlu terus ditegakkan dengan ketat,” kata Tjandra.
1.3 Rumusan Masalah
Bagaimana cara membuat orang yang sudah lama merokok, berhenti?
1.4 Tujuan
Untuk mengetahui cara membuat orang yang sudah lama merokok, berhenti.
2.1 Kajian teori tentang pengonsumsi rook
k yang meningkat dari waktu ke waktu
Perilaku merokok adalah sesuatu yang dilakukan seseorang berupa
membakar dan menghisapnya serta dapat menimbulkan asap yang dapat terisap
oleh orang-orang disekitarnya (Leavy dalam Nasution, 2007). Sedangkan
menurut Aritonang (dalam Sulistyo, 2009) merokok adalah perilaku yang
komplek, karena merupakan hasil interaksi dari aspek kognitif, kondisi
psikologis, dan keadaan fisiologis.
Perilaku merokok adalah sesuatu yang dilakukan seseorang berupa
membakar dan menghisapnya serta dapat menimbulkan asap yang dapat terisap
oleh orang-orang disekitarnya (Leavy dalam Nasution, 2007). Sedangkan
menurut Aritonang (dalam Sulistyo, 2009) merokok adalah perilaku yang
komplek, karena merupakan hasil interaksi dari aspek kognitif, kondisi
psikologis, dan keadaan fisiologis.
2.2 Kajian teori tentang perokok setiap Hari dan beberapa bulan
Perokok adalah seseorang yang suka merokok, disebut perokok aktifbila
orang tersebut yang merokok secara aktif, dan disebut perokok pasif bila
orang tersebut hanya menerima asap rokok saja, bukan melakukan aktivitas
merokok sendiri(KBBI, 2012).
Definisi lain dari perokok adalah mereka yang merokok setiap hari untuk
jangka waktu minimal enam bulan selama hidupnya masih merokok saat
surveidilakukan (Octafrida, 2011).
2.3 Bahan dan metode
Metode yang dipilih untuk berhenti merokok adalah metode pengobatan, perubahan perilaku, dan dorongan positif. Semua peristiwa di atas menyebabkan seorang perokok harus menghentikan kebiasaannya sebagai perokok. Hikmah di balik itu semua adalah perokok memiliki kemauan yang kuat untuk berhenti dari merokok.
2.4 Rancangan dan penelitian
Penelitian akan dilakukan pada tahun 2017 di Batu Mulia, mengapa saya memilih melakukan penelitian di tempat tersebut, karena di kalangan masyarakat banyak anak sekolah yang menghisap rokok , Pihak sekolah dan orangtua tampaknya sulit mengontrol anak didiknya yang merokok di lingkungan sekolah dan luar sekolah. Berdasarkan realita di atas, penelitian ini mencoba melakukan kerjasama dengan para mantan
perokok (khususnya para orangtua) untuk mengajak anak didiknya agar menjauhi rokok sejak usia dini. Melalui pertemuan dengan para informan diharapkan terbentuk suatu rasa kepedulian terhadap generasi muda khususnya mengenai lingkungan sehat bebas rokok.
2.5 Sampel
Rokok dengan merk yang berbeda-beda
2.6 hasil penelitian
Data yang terkumpul berupa data deskriptif informan mulai mengenal rokok sampai kecanduan rokok. Selain itu, diperoleh pula data mengenai proses berhenti merokok hingga peristiwa yang menyebabkan dia berhenti dari merokok.
2.7 Pembahasan
Setiap orang tentu memiliki alasan yang berbeda untuk berhenti merokok. Alasan tersebut sifatnya tidak tunggal, tetapi bisa ganda. Namun, ada alasan yang sifatnya utama serta ada alasan pendukung. Alasan gangguan kesehatan hampir merata ditemukan pada perokok yang ingin menghentikan kebiasaan merokoknya. Munculnya gangguan kesehatan seperti hipertensi, demam tinggi, batuk, dada nyeri dan sakit kepala. Akibat gangguan kesehatan itu menyebabkan perokok merasakan lidah yang pahit dan rasa yang tidak enak setiap kali merokok.
3.1 PENUTUP
3.2 Kesimpulan
einginan untuk hidup sehat, panjang umur, terbebas dari gangguan kesehatan maupun penyakit mendorong perokok untuk terlepas dari penderitaannya. Alasan berhenti merokok bisa dipengaruhi faktor kesehatan, keluarga, dan organisasi keagamaan. Faktor kesehatan yaitu munculnya gangguan-gangguan seperti hipertensi, nyeri dada, demam tinggi maupun batuk. Sementara itu penolakan anggota keluarga terhadap perokok mengakibatkan ada usaha keras untuk berhenti merokok. Faktor keluarga sebagai alasan berhenti merokok termasuk keprihatinan melihat anak dan istri yang mengikuti jejaknya sebagai perokok serta adanya balita di rumah yang akan terkena pengaruh negatif asap rokok. Sementara itu, faktor organisasi keagamaan menyangkut organisasi keagaamaan yang dianutnya menjadi faktor penting dalam hidupnya yang telah memberi pencerahan padanya agar menjauhi rokok, karena pengaruh negatif dari rokok lebih besar daripada positifnya.
Cara yang ditempuh untuk berhenti merokok antara lain dengan metode pengobatan yaitu mencari obat yang bisa menyembuhkan kecanduan terhadap rokok. Metode lain yaitu perubahan perilaku yaitu seseorang berubah tanpa bantuan obat melainkan hanya berhenti begitu saja melalui perubahan perilaku dengan menjauhi dan menghindari rokok. Metode ketiga yaitu dorongan positif artinya memasukkan pikiran dan perilaku positif yang diinginkan. Ketiga bentuk terapi yang dipilih untuk berhenti merokok dalam pelayanan kesehatan menurut Kleinman termasuk dalam sektor populer, karena informasi pelayanan kesehatan yang dipilih hanya didasarkan atas nasihat teman, keluarga, atau orang awam dan bukan dari kelompok medis.
Banyak orang mengatakan bahwa kenikmatan merokok sangat menyenangkan. Banyak pula orang mengatakan sulit sekali untuk meninggalkan kebiasaan atau lebih tepatnya kecanduan rokok. Mengapa dikatakan kecanduan, karena kebiasaan ini tidak bisa ditinggalkan begitu saja dan harus dipenuhi jika diinginkan serta rasa nikmat yang diburu. Padahal semua masyarakat dan khususnya perokok itu sendiri tahu benar bahwa merokok itu berbahaya bagi kesehatan khususnya paru-paru dan jantung, namun mereka masih tetap merokok. Inilah yang mempertegas bahwa merokok masuk dalam kategori kecanduan zat tertentu (nikotin) untuk menimbulkan rasa nikmat yang dalam bagi pecandunya. Hanya dengan tekad yang serius untuk menolak semua ajakan dan keinginan untuk merokok adalah sangat penting, karena dari
titik inilah selalu dapat mawas diri (kontrol diri) dalam setiap tindakan khususnya kecanduan rokok. Karena jika berkompromi dengan rokok, maka sebenarnya manusia yang tidak dapat memegang teguh prinsip hidup pribadinya. Jadi, tetaplah yakin bahwa kecanduan rokok mampu dihentikan dan tetap ingatlah selalu pada prinsip hidup yang benar. Salah satunya adalah tidak merokok.
3.3 Daftar Pustaka
http://www.ilmudasar.com/2016/10/Pengertian-Struktur-Bentuk-Fungsi-Proses-Pembentukan-Trombosit-adalah.html
http://digilib.unila.ac.id/7015/15/BAB%20II.pdf
http://etd.repository.ugm.ac.id/downloadfile/72110/potongan/S1-2014-300901-chapter1.pdf
http://jtptunimus-gdl-nurularyan-7979-2-.pdf
Komentar
Posting Komentar